Inilah Kisah Angeline Dari Lahir Hingga Margarieth Mengadopsinya

Bagaimana kisah awal mula Angeline dari lahirnya, berikut keterangan dari Ayah kandung Angeline, Rosidi dan ibu kandung Angeline, Hamidah.

0
3659
Inilah Kisah Angeline Dari Lahir Hingga Margarieth Mengadopsinya

Inilah Kisah Angeline Dari Lahir Hingga Margarieth Mengadopsinya. Angeline, gadis berusia 8 tahun yang ditemukan meninggal terkubur di halaman belakang rumah di Jalan Sedap Malam Nomor 26, Sanur, Bali pada Rabu 19 Juni 201o diketahui adalah anak angkat atau adopsi Margarieth Christina Megawe (50). Beginilah kisah Angeline dari lahir hingga Margarieth mengadopsinya

Inilah Kisah Angeline Dari Lahir Hingga Margarieth Mengadopsinya

Obat Pembesar Penis
obat pembesar penis

Tiga hari usai dilahirkan Siti Hamidah (28), Angelina diserahkan dan menjadi anak angkat Margarieth yang diketahui bersuamikan warga negara Amerika Serikat. Orangtua kandung Angeline terpaksa menyerahkannya karena mereka tak memiliki uang untuk biaya persalinan.

“Saat itu ada seseorang yang tidak saya kenal datang untuk memperkenalkan saya dengan Ibu Telly (Margriet, red). Ia mau membiayai biaya persalinan dan biaya kesehatan istri saya,” terang Ahmad rosyidik (29), ayah kandung Angeline.

Rosyidi bertemu Margriet di sebuah klinik bersalin di kawasan Canggu, Kuta Utara pada tahun 2007. Menurut dia, sebagai konsekuensinya, Rosyidi dan istrinya, Hamidah (28), harus mengikhlaskan putri kedua mereka, Angeline untuk diadopsi Margareith.

Ayah kandung Angeline, Rosidi (kanan) dan ibu kandung Angeline, Hamidah (kiri) memberi keterangan di Unit Forensik RSUP Sanglah, Kota Denpasar, Bali, Jumat (12/6). Kedua orang tua kandung Angeline melakukan tes DNA untuk memastikan dan sebagai dasar hukum hubungan antara orang tua dan Angeline, anak yang dibunuh dan dikubur di belakang rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/
Ayah kandung Angeline, Rosidi (kanan) dan ibu kandung Angeline, Hamidah (kiri) memberi keterangan di Unit Forensik RSUP Sanglah, Kota Denpasar, Bali, Jumat (12/6). Kedua orang tua kandung Angeline melakukan tes DNA untuk memastikan dan sebagai dasar hukum hubungan antara orang tua dan Angeline, anak yang dibunuh dan dikubur di belakang rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/

Rosyidi menjelaskan rincian uang yang dikeluarkan Margarieth untuk mengadopsi Angeline senilai total Rp 1,8 juta, dengan rincian biaya persalinan Rp 800 ribu dan biaya perawatan Hamidah Rp 1 juta.

“Saat berusia tiga hari, Angeline langsung dibawa oleh Ibu Telly. Dan, hari itu adalah hari terakhir saya bertemu dengan putri saya,” terang pria yang tinggal di Tembau, Denpasar, Bali ini.

Menengok

Sejak saat itu, Rosyidi sempat beberapa kali ingin menengok putrinya di rumah Margriet namun tidak kunjung berhasil. “Saat Angeline bayi saya sempat berusaha untuk menengok, tapi alasan ibu Tely bahwa anak saya sedang tidur. Saya tidak berhasil menemui putri saya,” ucapnya.

Rosyidi mengaku kaget ketika ada pemberitaan hilangnya Angeline yang kemudian ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. “Sejak pemberitaan putri saya hilang, banyak pihak kepolisian mendatangi saya untuk dimintai keterangan. Namun, ternyata kejadiannya seperti ini. Saya tidak terima anak saya meninggal seperti ini,” ujarnya.

Dilakukan di notaris

Hamidah mengatakan, proses adopsi Angeline hanya dilakukan oleh notaris, dan tidak sampai pengesahan di pengadilan. Beberapa hari usai Margarieth membawa Angeline, Rosyidi kembali bertemu dengan Margarieth. Mereka bertemu di Kantor Notaris Anneke Wibowo SH di Jalan Teuku Umar, Denpasar, Bali. Keduanya melakukan kesepakatan dalam Akta Pengakuan Pengangkatan Anak.

Untuk diketahui, Hamidan dan Rosyidi bersama tim dari P2TP2A mendatangi kantor Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Anneke Wibowo SH di Jalan Teuku Umar. Kedatangan kedua orangtua dari bocah malang ke kantor notaris tersebut untuk memperoleh salinan akta yang dibuat tahun 2007 yang disepakati oleh orangtua kandung Ag selaku pihak pertama dengan Margareith Christina Megawe, selaku pihak kedua yang tertera dalam akta tersebut.

Dalam kesepakatan tersebut kedua pihak membuat kesepakatan yang diikat ke dalam Akta Pengakuan Pengangkatan Anak tertanggal 24 Mei 2007 nomor 18 yang dibuat di Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Anneke Wibowo SH.

“Kedua belah pihak sebelum datang ke notaris sudah melakukan kesepakatan, mungkin saja perjanjian ini dibuat takutnya salah satu pihak mengingkari kesepakatan. Jadi ketika terjadi sesuatu ada kesepakatan hitam di atas putih,” jelas Anneke Wibowo, Notaris yang membuatkan akta pengangkatan anak.

Anneke lebih lanjut mengatakan, kedua belah pihak pada waktu itu sempat datang dua kali ke kantornya untuk meminta tolong dibuatkan akta. “Yang minta untuk bikin kesepakatan hitam di atas putih itu Ibu Margarieth. Mungkin saja dia takut nanti terjadi pengingkaran kesepakatan,” ujarnya sebagaimana dilansir TribunNews.

Dijelaskan Anneke, akta ini hanya pegangan awal untuk tidak saling mengingkari kesepakatan, dan bukan akta adopsi. Jika pihak pertama ingin mengadopsi seharusnya menempuh jalur pengadilan dan mengikuti proses legal. Hal itu senada dengan pernyataan Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa kemarin yang mengatakan bahwa proses adopsi Angeline tidak sesuai prosedur.

“Akta saya bukan akta adopsi, ini akta pengakuan pengangkatan anak. Akta ini kesepakatan awal sebelum dilakukan proses selanjutnya, tetapi proses selanjutnya Anneke menjelaskan, dalam akta tersebut, yang mengikat perjanjian adalah Rosyidi dengan Margarieth.

Terkait dengan kekuatan hukum, Anneke menyatakan, bukan pengangkatan anaknya yang mempunyai kekuatan hukum, tapi apa yang disepakati di dalamnya yang mengikat dan berlaku sebagai UU.

“Yang diikat yang tertera di akta bukan yang keluar dari akta,” katanya.

Dikatakan Anneke, akta tersebut secara garis besar menyatakan, bahwa pihak pertama mengaku telah menyerahkan anaknya kepada pihak kedua selaku penerima.

”Saya tidak membuat tentang pengangkatan anak. Ini tidak diperbolehkan, akta ini hanya kesepakatan awal. Makanya judul Aktanya Pengakuan Pengangkatan Anak. Itu bukan adopsi,” terangnya.

Dijelaskan Anneke, Akta ini hanya pegangan awal untuk tidak saling mengingkari kesepakatan, dan bukan akta adopsi. Jika pihak pertama ingin mengandopsi seharusnya menempuh jalur pengadilan dan mengikuti proses legal.

“Akta saya bukan akta adopsi, ini akta pengakuan pengangkatan anak. Akta ini kesepakatan awal sebelum dilakukukan proses selanjutnya, tetapi proses selanjutnya itu yang tidak ditindaklanjuti oleh kedua belah pihak,” ujarnya.

Anneke kembali menegaskan, agar tidak salah paham terkait dengan kabar adanya akta adopsi dirinya hanya membuat akta pengakuan kesepakatan. Jadi akta itu sifatnya kesepakatan awal supaya menjaga untuk tidak saling memungkuri kesepakatan, ada bukti kesepakatan hitam diatas putih.

“Biar tidak salah paham, saya bukan tempat untuk melegalisasi atau melegalkan pengangkatan anak. Kesepakatan ini mengikat kedua belah pihak, seandainya ada pengingkaran kesepakatan, dan saya sudah jelaskan ke para pihak, bukan di sini tempat pengangkatan anak, kalau pengangkatan anak itu harus ke pengadilan,” katanya.

Warisan

Terkait dengan kabar yang beredar adanya klausul yang menyatakan korban mendatap warisan dari ayah angkatnya yang orang asing tersebut, Anneke menyatakan tidak ada kalimat yang menerangkan bahwa Ag menerima warisan.

“Saya buka kembali file aktanya tidak ada tercantum nama bule dan katanya ada point yang menerangkan hak waris dari si bule. Saya buka tidak ada bulenya dan dari mana bisa ada ahli waris dari si bule. Bulenya saja saya tidak pernah lihat dan saya tidak pernah buat surat wasiat,” jelasnya.

Ketika ditanyakan terkait dengan kabar yang menyatakan sebelum 18 tahun orangtua kandung Ag tidak boleh bertemu dan keterangan bahwa setelah 18 tahun Ag dikembalikan ke orangtua kandungnya, Anneke menyatakan dalam akta tersebut tidak tercantum.

“Tidak ada tercantum itu, dan tidak ada point yang menyatakan orangtua kandung tidak boleh bertemu, itu tidak ada. Tetapi ada tertulis tidak boleh demi kepentingan psikologis anak,” ujarnya.

Pihaknya menambahkan sesuai dengan yang tercamtum dalam akta tersebut orangtua kandung tidak boleh mengungkapkan jati diri sampai anak tersebut dewasa.

“Untuk kepentingan psikologis pihak yang menyerahkan tidak boleh mengungkapkan jati diri sampai anak itu dewasa, berarti kalau anak sudah dewasa kan boleh. Dewasa menurut UU itu ada yakni 21 tahun, 18 tahun untuk UU tertentu. Jadi cuma hanya jati diri saja,” jelasnya.

Kisah Panjang Pencarian Angeline

Baca juga : Kisah Panjang Pencarian Angeline…

Berikut foto-foto kenangan manis bocah cantik Angeline semasa hidup:

sumber infokami.com: Foto-foto Kenangan Manis Angeline Semasa Hidup

Foto-foto Kenangan Manis Angeline Semasa Hidup

Foto-foto Kenangan Manis Angeline Semasa Hidup

Lucunya Angeline saat balita tampak sedang memegang ponsel.

Foto-foto Kenangan Manis Angeline Semasa Hidup

Foto-foto Kenangan Manis Angeline Semasa Hidup

Foto-foto Kenangan Manis Angeline Semasa Hidup

Foto-foto Kenangan Manis Angeline Semasa Hidup

Cantiknya Angeline..

Foto-foto Kenangan Manis Angeline Semasa Hidup

Harapan bisa menemukan Angeline dalam keadaan baik-baik saja kini sirna sudah. Bocah 8 tahun itu justru ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.

Selamat jalan Angeline, semoga tenang di sana. #RIPAngeline

Trendding Topik Artikel Ini:

  • kisah angelin
  • bocah bugil
  • awal mula kisah angeline
  • www kisah angeline
  • gambar memek siti badriah
Agen Bola Terpercaya
Obat Pembesar Penis Vimax Asli di Bandung

LEAVE A REPLY